Judulnya belum saya tentukan, ini
bercerita tentang trio ni-nen Hyoutei. Semua ide datang dari berbagai fanart
yang saya lihat di tumblr. So,
silakan..!
Tenipuri milik Takeshi Konomi.
Musim semi yang cerah, bunga sakura menghiasi
jalanan kota yang lenggang. Angin yang
berhembus membuat mahkota bunga sakura beterbangan. Musim semi memang musim
yang indah, segala sesuatu dimulai kembali di musim ini. Seperti tahun ajaran
sekolah yang baru berjalan sekitar satu bulan namun menghasilkan sebuah
persahabatan manis dua orang anak yang tengah berjalan pulang dari sekolah.
“Wah,
cantiknya.” kata seorang anak bermata cokelat besar sambil tersenyum lebar.
“Hiyoshi-kun
coba lihat, cantik. Ayo kesana!” katanya lagi sambil menunjuk ke pohon sakura
besar di seberang jalan.
Cowok
bernama Hiyoshi itu memandang malas, lalu dia hanya mengangguk.
“Uhm, kau
marah ya Hiyoshi-kun?”
“Tidak. Nee,
Ootori-kun aku harus cepat pulang, ada latihan soroban hari ini.”
“Eh?” mata
cokelat itu membesar. “Kau kan sudah janji akan pergi denganku hari ini?”
“Bukannya
besok?” tanya Hiyoshi.
“Hari ini,
uhm baiklah kalau kau tidak bisa.” Ootori Choutarou, nama cowok itu, melas.
“Tch, maaf
aku lupa.”
“Tidak apa.”
“Kalau besok
bagaimana?”
“Festival
musim semi itu hanya sampai hari ini saja.”
“Oh…”
Hening seketika, mereka tak tahu harus
bicara apa. Hiyoshi tau pasti Ootori sangat kecewa padanya, namun dia
benar-benar lupa dia pikir mereka janjian besok. Ootori sendiri juga tak mau
memaksa Hiyoshi, jadi dia memutuskan untuk langsung pulang saja.
“Hiyoshi-kun,
ya sudah ayo kita pulang saja.”
“Eh, baiklah.”
Mereka
berjalan dengan canggung sampai mereka bertemu seseorang berseragam sama dengan
mereka berada di bawah pohon sakura yang dimaksud Ootori tadi.
“Eh, itu
Kabaji-kun anak baru itu kan?” tanya Hiyoshi.
“Kabaji-kun.”
sapa Ootori ramah.
Kabaji, anak
berbadan besar itu menoleh dan tersenyum.
“Ootori-san,
Hiyoshi-san?” katanya sambil menunjuk ke Ootori dan Hiyoshi bergantian.
Ootori
tersenyum,”Kau sedang apa?”
Kabaji
memandang pohon sakura itu lalu tersenyum,”Bunganya cantik.”
“Wah, kau
berpikiran sama denganku.” ujar Ootori riang.
“Kau pasti
sudah lama tidak melihat bunga sakura ya?” tanya Hiyoshi.
“Iya, di
London tidak ada.”
“Kabaji-kun
di pusat kota ada festival musim semi loh, kalau disana kau pasti bisa melihat banyak
hal.” kata Ootori.
Hati Hiyoshi
mencelos,”Ups, sepertinya Ootori benar-benar ingin kesana.” katanya dalam hati.
“Benarkah?
Kalau begitu ayo kesana.” ajak Kabaji.
“Ay…”
kalimat Ootori terhenti.
Melihat
perubahan air muka Hiyoshi, Ootori jadi salah tingkah.
“Eh, tapi sepertinya
aku tidak bisa ikut.” kata Ootori cepat.
Terlihat
Kabaji sangat kecewa,”Kenapa?”
“Ootori-kun,
kau bisa kesana dengan Kabaji-kun. Sekali lagi maaf ya,” kata Hiyoshi.
“Tidak,
tidak usah kok. Tahun depan juga masih ada festival musim semi, kalau tidak
bersama Hiyoshi-kun aku tidak mau.”
Hiyoshi menghela
nafas panjang, “Baiklah ayo kesana, aku
ikut.”
“Eh, latihan
sorobannya bagaimana?”
“Besok juga
bisa.” kata Hiyoshi sambil berjalan menuju arah tempat festival.
Ootori
tersenyum lalu dia menarik tangan Kabaji,”Let’s go!”
Suasana
festival sangat meriah dan tentunya ramai, berbagai ornamen menghiasi setiap
toko dan stand yang menjajakan dagangan mereka. Satu-persatu stand mereka
kunjungi, yang terlihat sangat antusias tentunya Kabaji.
“Terimakasih.”
kata Kabaji tiba-tiba.
“Untuk apa?”
tanya Ootori yang tengah melihat-lihat aksesoris yang dijajakan.
“Karena
kalian telah mengajakku kesini, terimakasih.”
“Tak perlu
sungkan begitu Kabaji-kun, hei Ootori-kun kau cari apa sih? Itu kan
barang-barang cewek!”
“Eh? Aku mau
beli sesuatu buat Nee-san.” jawabnya. “Mana yang lebih bagus, kalung atau
gelang?”
“Tch~”
“Gelang itu
lebih menarik.” jawab Kabaji.
“Heh,
Kabaji-kun juga berpikir begitu? Baiklah aku beli gelang ini saja.”
“Aku juga
mau beli satu.”
“Kabaji-kun
punya saudara perempuan?”
“Usu, adik
perempuan.”
“Wah, kalau
aku punya kakak perempuan. Hiyoshi-kun juga mau beli tidak?”
“Tidak.” jawab
Hiyoshi tanpa ekspresi.
“Oh iya, Hiyoshi tidak punya saudara perempuan.
Kabaji-kun, adikmu kelas berapa? Menurutku gelang ini bagus deh ukurannya tidak
terlalu besar.”
“Oh, coba
kulihat.”
Mereka berdua memilih-milih aksesoris
yang dijajakan, awalnya mereka yakin akan membeli gelang tapi setelah melihat
aksesoris yang lain mereka tidak jadi membeli gelang dan tergoda membeli yang
lain. Hiyoshi hanya menunggu mereka sambil melamun.
“Hah, bosan.” keluh Hiyoshi.
Hiyoshi, memang dia tidak ada ketertarikan
untuk kesini namun demi sang sahabat dia rela meninggalkan latihan soroban.
Ootori Choutarou itu anak yang baik, dia
rajin dan juga ramah, berbeda dengan dirinya yang sering menyendiri sambil
membaca buku. Walaupun teman Ootori banyak namun dia selalu menyediakan waktu
untuk Hiyoshi bahkan dia rela menunggu Hiyoshi hanya untuk pulang bersama. Maka
dari itu Hiyoshi tidak mau mengecewakan Ootori, paling tidak untuk hari ini.
Kebaikannya terbukti kembali hari ini dengan mengajak serta Kabaji. Ootori
pasti tau persis betapa rindunya Kabaji akan Jepang. Kabaji baru masuk Hyoutei's
elementary school tahun ini atau bisa dibilang baru sekitar satu bulan dia
kembali ke Jepang setelah sebelumnya bersekolah di Inggris. Pertama kali bertemu
ketika mereka berdua tengah mengunjungi Hyoutei’s middle school. Disana
mereka melihat pertandingan tenis yang luar biasa padahal yang bertanding itu
masih kelas 1 SMP. Atobe Keigo dan Oshitari Yuushi, itulah mereka. Mereka
berdua sama-sama ichinen di Hyoutei’s middle school namun skill
mereka sungguh hebat. Sejak saat itu Hiyoshi dan Ootori bertekad untuk belajar
bermain tenis, bahkan Hiyoshi berniat untuk melampaui mereka. Kabaji merupakan
teman dari Atobe Keigo sejak masih di Inggris.
“Hiyoshi-kun?” panggil Kabaji.
Hiyoshi bangun dari lamunannya,”Apa?”
“Kita udah selesai nih, Hiyoshi-kun
kira-kira mau kemana? Sekarang gantian kami yang nemenin.” kata Ootori.
“Hmm, cari makan yuk!”
“USU !” jawab mereka berdua kompak.
Sambil memakan creepes mereka
berjalan kembali mengelilingi festival,
“Kabaji-kun, tumben kau tidak bersama
Atobe-san, eh benar kan namanya Atobe-san?” tanya Hiyoshi.
“Usu. Atobe-san bilang dia tidak ingin
merepotkanku karena aku sudah kelas 6.”
“Wah, ternyata dia orang baik ya.” ujar
Hiyoshi.
“Tentu, dia memang seperti itu, ya banyak
lagak, tapi sebenarnya dia perhatian.”
“Tepat, pertama kali aku melihatnya entah
mengapa jantungku berdebar-debar, aku tau dia pasti bukan orang biasa.” sambung
Ootori.
“Gekokujou da...” Hiyoshi berkata lirih.
“Hiyoshi-kun?”
“Bukan apa-apa.” Hiyoshi cepat membalas.
“Aku merasa termotivasi, suatu saat akan kulampaui dia.”
Kabaji dan Ootori tersenyum,” Kau pasti
bisa!”
Hiyoshi tersenyum malu,”Benarkah? Sudah
hampir sore, bagaimana kalau pulang saja?”
“Baiklah, tidak apa-apa.”
Dari depan terlihat seseorang bercosplay
seperti penyihir, bajunya berwarna hitam dengan jubah merah. Topi runcing yang
dia kenakan juga berwarna merah, sambil membawa keranjang berisi permen dia
tersenyum manis menjajakan permennya.
“Silakan….” sapanya ramah pada Ootori.
“Eh, tidak-tidak, terimakasih.” tolak
Ootori, seketika Hiyoshi dan Kabaji ikut berhenti berjalan.
“Gratis looh…” kata penyihir itu sambil
mengedipkan matanya.
“Gratis? Terimakasih.” kata Choutarou
sambil menerima permen lolipop itu.
Sambil memberikan permen kepada Kabaji,
“penyihir” itu berkata,”Kalau mau yang lain bisa beli di toko itu.”
Lalu dia memberikan permen ke Hiyoshi,
“Ini adik manis.”
Suaranya begitu lembut, tutur katanya halus,
tak hanya itu wajah “penyihir” itupun sungguh manis. Hiyoshi merasa jantungnya
berdetak kencang bahkan parahnya asupan oksigen ke paru-parunya pun terasa
hilang. Perutnya mual namun dia bisa merasakan pipinya memanas. Perasaan apa
ini?
“Wah, kalian anak Hyoutei ternyata.” kata
penyihir itu.
“Iya kami kelas 6, kakak juga masih
sekolah ya sepertinya?” tanya Ootori.
“Un, aku masih kelas 1 SMP di Hyoutei
hehehe ternyata cuma beda satu tingkat ya. Dan, ssstt jangan
bilang-bilang , aku sebenarnya cowok loh.” katanya sambil berbisik.
“APA? Cowok?” ketiga anak kelas 6 itu
kaget.
Hiyoshi tertegun, dia cowok tetapi kenapa
bisa selembut itu bahkan dia hanya selisih satu tahun darinya tapi bisa
terlihat begitu dewasa.
“Jangan keras-keras!!!”
“Kok bisa?” tanya Kabaji.
“Penyihir” itu nyengir, “Kegiatan klub
belum mulai sih makanya aku cari kesibukan dan kupikir cosplay seperti
ini menarik.”
“Kakak ikut klub apa?” tanya Hiyoshi
malu-malu.
“Aku? Tenis. Di klub tenis sedang ada
sedikit perdebatan, ada anak baru yang sekarang jadi kapten. Namun belum banyak
yang percaya padanya terutama para senpai. Terus para senpai menyuruh anak baru
dan anak kelas 2 untuk tidak mematuhi anak baru itu makanya kegiatan klub belum
berjalan lancar. Namun, aku yakin anak baru pasti bisa, dia hebat!” katanya
berseri-seri.
“Atobe Keigo.” kata Hiyoshi, Ootori dan
Kabaji bersamaan.
“Heh? Kalian tau?”
“Kami melihat pertandingannya beberapa
waktu yang lalu.” jawab Hiyoshi “Kabaji malah temannya, na Kabaji?”
“Usu.”
“Ahh, makanya kaya pernah liat
sebelumnya. Eh, kalian besok masuk Hyoutei ya!”
“Tentu.”
“Bagus, Atobe pasti akan membawa
perubahan bagi tim tenis Hyoutei jadi kalian harus masuk ke Hyoutei!”
“Hiyoshi-kun bahkan bermaksud
melampauinya !” kata Ootori terang-terangan sambil menunjuk Hiyoshi.
“Ootori!”
“Penyihir” itu memandang Hiyoshi dari
atas sampai ke bawah,
” Semangat yang bagus. Kau pasti juga
bisa Hiyoshi-chan.” katanya sambil menepuk kepala Hiyoshi.
Saat itu wajahnya sangat dekat dengan
wajah Hiyoshi. Hiyoshi bisa melihat betapa putih dan halus kulit wajah
“penyihir” itu juga matanya yang menyiratkan kelembutan. Sekali lagi, Hiyoshi
merasa mual.
“Terimakasih.” kata Hiyoshi sambil
menunduk.
“Are? Kau sakit ya, mukamu merah.”
“Eh, iya. Hiyoshi lebih baik kita cepat
pulang.” kata Ootori khawatir. “Kakak, kami pulang dulu ya!” pamit Ootori sambil
menggandeng tangan Hiyoshi.
“Bye…!” balas sang “penyihir” sambil
tersenyum manis.
Belum jauh mereka berjalan Hiyoshi
menghentikan langkahnya.
“Nama kakak siapa?” tanyanya ke
“Penyihir” dengan muka merah padam.
“Taki Haginosuke. Yoroshiku~”
Hiyoshi segera berbalik dan berjalan
dengan cepat. Jantungnya berdebar sangat kencang dan perut mualnya sungguh tak
tertahankan.
“Hiyoshi-kun, daijoubu?” tanya Kabaji.
“Un, daijobu!”
Ootori dan Hiyoshi berpisah dengan
Kabaji di sebuah perempatan. Sebelum berpisah
Kabaji berulangkali mengucapkan terimakasih.
“Tanoshikatta desu, arigatou
gozaimashita Hiyoshi-Ootori.” kata Kabaji.
Seharusnya Ootori mengambil jalan yang
sama dengan Kabaji namun Ootori bersikeras ingin mengantar Hiyoshi sampai ke
rumah padahal Hiyoshi sudah bilang dia tidak sakit. Rasa mual di perutnya sudah
hilang namun jantungnya masih berdebar kencang.
“Sudah kubilang aku tidak apa-apa, kau
jadi mengantarku sampai rumah begini.” kata Hiyoshi sesampainya di depan
rumahnya.
“Habis muka Hiyoshi-kun merah, tadi aku
kan yang ngajak Hiyoshi main jadi aku harus bertanggungjawab.”
“WAKASHI !” sebuah suara dari arah rumah
terdengar.
Terlihat seorang wanita berpakaian ala
Jepang keluar dari rumah. Beliau sudah cukup berumur namun rona kecantikannya
masih terlihat.
“Konnichiwa.” salam Ootori.
“Konnichiwa.” balas wanita itu.
“Wakashi, bolos les soroban lagi?”
“EhitusalahsayabukansalahHiyoshiitukarenasayamemaksaHiyoshiikutmaintolongmaafkanHiyoshi”
jawab Ootori cepat tanpa aba-aba sehingga semua perkataannya tidak jelas.
Di sebuah ruangan dengan tatami yang
ditata rapi Hiyoshi dan Ootori duduk berdekatan. Ootori sedari tadi menunduk,
dia merasa bersalah telah mengajak Hiyoshi pergi ke festival sehingga harus
bolos latihan soroban. Lalu pintu di samping terbuka,
“Ootori-kun, silakan diminum.” Wanita
tadi yang merupakan ibu dari Hiyoshi menyuguhkan teh.
“Terimakasih.” Ootori masih menunduk.
“Tidak apa-apa, bibi tidak marah kok
denganmu atau dengan Wakashi.”
“Benarkah?”
“Jika Hiyoshi tidak mau latihan soroban biasanya
dia akan minta izin dulu pada bibi, tapi tadi Wakashi tidak bilang apa-apa
makanya bibi kira dia latihan soroban seperti biasa. Namun, saat Bibi menelepon
gurunya beliau bilang Hiyoshi tidak datang jadi bibi agak khawatir.”
“Maaf, telah membuat Bibi khawatir. Saya
tadi memaksa Hiyoshi menemani saya pergi ke festival.”
“Ootori-kun, aku tidak merasa terpaksa
kok.” Hiyoshi protes.
“Sekali lagi maaf ya bibi-Hiyoshi.”
Saat pulang Hiyoshi mengantar Ootori
sampai ke depan.
“Ootori-kun terimakasih untuk hari ini.
Seperti yang dibilang Kabaji , tadi sangat menyenangkan. Aku tidak menyesal
membolos latihan soroban.” kata Hiyoshi malu-malu. “Kau tak perlu minta maaf.”
Mulut Ootori tertutup, dia memang
bermaksud minta maaf (lagi).
“Aku senang melihat Kabaji-kun dan kau
menikmati festivalnya.”
“Kau sendiri menikmatinya kan? Aku senang
bisa ketemu dengan kakak tadi, aku benar-benar ingin masuk klub tenis Hyoutei!
Kita mulai latihan minggu ini yuk, menurut bagaimana Hiyoshi-kun?”
”Dia manis dan baik, saat dia bilang dia
cowok aku tidak percaya habis dia terlihat lembut. Tapi sungguh aku kagum
dengannya, uhmm.. targetku tak hanya Atobe-san tapi kakak itu juga!!”
“Eh? Maksudku tentang tennis.”
Hiyoshi melongo. Salah tingkah. “Oh.. . Ya
aku setuju!”
Ootori tersenyum nakal,”Ahhh Hiyoshi-kun
suka sama kakak tadi ya? Cinta pada pandangan pertama?”
“Urusai!” Hiyoshi salah tingkah.
Ootori-pun tertawa terbahak-bahak.
OWARI

0 comments:
Poskan Komentar