07 Agustus 2011

FF : Untitled


Judulnya belum saya tentukan, ini bercerita tentang trio ni-nen Hyoutei. Semua ide datang dari berbagai fanart yang saya lihat di tumblr.  So, silakan..!
Tenipuri milik Takeshi Konomi.


Musim semi yang cerah, bunga sakura menghiasi jalanan kota yang lenggang.  Angin yang berhembus membuat mahkota bunga sakura beterbangan. Musim semi memang musim yang indah, segala sesuatu dimulai kembali di musim ini. Seperti tahun ajaran sekolah yang baru berjalan sekitar satu bulan namun menghasilkan sebuah persahabatan manis dua orang anak yang tengah berjalan pulang dari sekolah.
“Wah, cantiknya.” kata seorang anak bermata cokelat besar sambil tersenyum lebar.
“Hiyoshi-kun coba lihat, cantik. Ayo kesana!” katanya lagi sambil menunjuk ke pohon sakura besar di seberang jalan.
Cowok bernama Hiyoshi itu memandang malas, lalu dia hanya mengangguk.
“Uhm, kau marah ya Hiyoshi-kun?”
“Tidak. Nee, Ootori-kun aku harus cepat pulang, ada latihan soroban hari ini.”
“Eh?” mata cokelat itu membesar. “Kau kan sudah janji akan pergi denganku hari ini?”
“Bukannya besok?” tanya Hiyoshi.
“Hari ini, uhm baiklah kalau kau tidak bisa.” Ootori Choutarou, nama cowok itu, melas.
“Tch, maaf aku lupa.”
“Tidak apa.”
“Kalau besok bagaimana?”
“Festival musim semi itu hanya sampai hari ini saja.”
“Oh…”
Hening seketika, mereka tak tahu harus bicara apa. Hiyoshi tau pasti Ootori sangat kecewa padanya, namun dia benar-benar lupa dia pikir mereka janjian besok. Ootori sendiri juga tak mau memaksa Hiyoshi, jadi dia memutuskan untuk langsung pulang saja.
“Hiyoshi-kun, ya sudah ayo kita pulang saja.”
“Eh, baiklah.”
Mereka berjalan dengan canggung sampai mereka bertemu seseorang berseragam sama dengan mereka berada di bawah pohon sakura yang dimaksud Ootori tadi.
“Eh, itu Kabaji-kun anak baru itu kan?” tanya Hiyoshi.
“Kabaji-kun.” sapa Ootori ramah.
Kabaji, anak berbadan besar itu menoleh dan tersenyum.
“Ootori-san, Hiyoshi-san?” katanya sambil menunjuk ke Ootori dan Hiyoshi bergantian.
Ootori tersenyum,”Kau sedang apa?”
Kabaji memandang pohon sakura itu lalu tersenyum,”Bunganya cantik.”
“Wah, kau berpikiran sama denganku.” ujar Ootori riang.
“Kau pasti sudah lama tidak melihat bunga sakura ya?” tanya Hiyoshi.
“Iya, di London tidak ada.”
“Kabaji-kun di pusat kota ada festival musim semi loh, kalau disana kau pasti bisa melihat banyak hal.” kata Ootori.
Hati Hiyoshi mencelos,”Ups, sepertinya Ootori benar-benar ingin kesana.” katanya dalam hati.
“Benarkah? Kalau begitu ayo kesana.” ajak Kabaji.
“Ay…” kalimat Ootori terhenti.
Melihat perubahan air muka Hiyoshi, Ootori jadi salah tingkah.
“Eh, tapi sepertinya aku tidak bisa ikut.” kata Ootori cepat.
Terlihat Kabaji sangat kecewa,”Kenapa?”
“Ootori-kun, kau bisa kesana dengan Kabaji-kun. Sekali lagi maaf ya,” kata Hiyoshi.
“Tidak, tidak usah kok. Tahun depan juga masih ada festival musim semi, kalau tidak bersama Hiyoshi-kun aku tidak mau.”
Hiyoshi menghela nafas panjang, “Baiklah ayo kesana,  aku ikut.”
“Eh, latihan sorobannya bagaimana?”
“Besok juga bisa.” kata Hiyoshi sambil berjalan menuju arah tempat festival.
Ootori tersenyum lalu dia menarik tangan Kabaji,”Let’s go!”

Suasana festival sangat meriah dan tentunya ramai, berbagai ornamen menghiasi setiap toko dan stand yang menjajakan dagangan mereka. Satu-persatu stand mereka kunjungi, yang terlihat sangat antusias tentunya Kabaji.
“Terimakasih.” kata Kabaji tiba-tiba.
“Untuk apa?” tanya Ootori yang tengah melihat-lihat aksesoris yang dijajakan.
“Karena kalian telah mengajakku kesini, terimakasih.”
“Tak perlu sungkan begitu Kabaji-kun, hei Ootori-kun kau cari apa sih? Itu kan barang-barang cewek!”
“Eh? Aku mau beli sesuatu buat Nee-san.” jawabnya. “Mana yang lebih bagus, kalung atau gelang?”
“Tch~”
“Gelang itu lebih menarik.” jawab Kabaji.
“Heh, Kabaji-kun juga berpikir begitu? Baiklah aku beli gelang ini saja.”
“Aku juga mau beli satu.”
“Kabaji-kun punya saudara perempuan?”
“Usu, adik perempuan.”
“Wah, kalau aku punya kakak perempuan. Hiyoshi-kun juga mau beli tidak?”
“Tidak.” jawab Hiyoshi tanpa ekspresi.
“Oh  iya, Hiyoshi tidak punya saudara perempuan. Kabaji-kun, adikmu kelas berapa? Menurutku gelang ini bagus deh ukurannya tidak terlalu besar.”
“Oh, coba kulihat.”
Mereka berdua memilih-milih aksesoris yang dijajakan, awalnya mereka yakin akan membeli gelang tapi setelah melihat aksesoris yang lain mereka tidak jadi membeli gelang dan tergoda membeli yang lain. Hiyoshi hanya menunggu mereka sambil melamun.
“Hah,  bosan.” keluh Hiyoshi.

Hiyoshi, memang dia tidak ada ketertarikan untuk kesini namun demi sang sahabat dia rela meninggalkan latihan soroban. Ootori  Choutarou itu anak yang baik, dia rajin dan juga ramah, berbeda dengan dirinya yang sering menyendiri sambil membaca buku. Walaupun teman Ootori banyak namun dia selalu menyediakan waktu untuk Hiyoshi bahkan dia rela menunggu Hiyoshi hanya untuk pulang bersama. Maka dari itu Hiyoshi tidak mau mengecewakan Ootori, paling tidak untuk hari ini. Kebaikannya terbukti kembali hari ini dengan mengajak serta Kabaji. Ootori pasti tau persis betapa rindunya Kabaji akan Jepang. Kabaji baru masuk Hyoutei's elementary school tahun ini atau bisa dibilang baru sekitar satu bulan dia kembali ke Jepang setelah sebelumnya bersekolah di Inggris. Pertama kali bertemu ketika mereka berdua tengah mengunjungi Hyoutei’s middle school. Disana mereka melihat pertandingan tenis yang luar biasa padahal yang bertanding itu masih kelas 1 SMP. Atobe Keigo dan Oshitari Yuushi, itulah mereka. Mereka berdua sama-sama ichinen di Hyoutei’s middle school namun skill mereka sungguh hebat. Sejak saat itu Hiyoshi dan Ootori bertekad untuk belajar bermain tenis, bahkan Hiyoshi berniat untuk melampaui mereka. Kabaji merupakan teman dari Atobe Keigo sejak masih di Inggris.
“Hiyoshi-kun?” panggil Kabaji.
Hiyoshi bangun dari lamunannya,”Apa?”
“Kita udah selesai nih, Hiyoshi-kun kira-kira mau kemana? Sekarang gantian kami yang nemenin.” kata Ootori.
“Hmm, cari makan yuk!”
“USU !” jawab mereka berdua kompak.

Sambil memakan creepes mereka berjalan  kembali mengelilingi festival,
“Kabaji-kun, tumben kau tidak bersama Atobe-san, eh benar kan namanya Atobe-san?” tanya Hiyoshi.
“Usu. Atobe-san bilang dia tidak ingin merepotkanku karena aku sudah kelas 6.”
“Wah, ternyata dia orang baik ya.” ujar Hiyoshi.
“Tentu, dia memang seperti itu, ya banyak lagak, tapi sebenarnya dia perhatian.”
“Tepat, pertama kali aku melihatnya entah mengapa jantungku berdebar-debar, aku tau dia pasti bukan orang biasa.” sambung Ootori.
“Gekokujou da...” Hiyoshi berkata lirih.
“Hiyoshi-kun?”
“Bukan apa-apa.” Hiyoshi cepat membalas. “Aku merasa termotivasi, suatu saat akan kulampaui dia.”
Kabaji dan Ootori tersenyum,” Kau pasti bisa!”
Hiyoshi tersenyum malu,”Benarkah? Sudah hampir sore, bagaimana kalau pulang saja?”
“Baiklah, tidak apa-apa.”

Dari depan terlihat seseorang bercosplay seperti penyihir, bajunya berwarna hitam dengan jubah merah. Topi runcing yang dia kenakan juga berwarna merah, sambil membawa keranjang berisi permen dia tersenyum manis menjajakan permennya.
“Silakan….” sapanya ramah pada Ootori.
“Eh, tidak-tidak, terimakasih.” tolak Ootori, seketika Hiyoshi dan Kabaji ikut berhenti berjalan.
“Gratis looh…” kata penyihir itu sambil mengedipkan matanya.
“Gratis? Terimakasih.” kata Choutarou sambil menerima permen lolipop itu.
Sambil memberikan permen kepada Kabaji, “penyihir” itu berkata,”Kalau mau yang lain bisa beli di toko itu.”
Lalu dia memberikan permen ke Hiyoshi, “Ini adik manis.”
Suaranya begitu lembut, tutur katanya halus, tak hanya itu wajah “penyihir” itupun sungguh manis. Hiyoshi merasa jantungnya berdetak kencang bahkan parahnya asupan oksigen ke paru-parunya pun terasa hilang. Perutnya mual namun dia bisa merasakan pipinya memanas. Perasaan apa ini?
“Wah, kalian anak Hyoutei ternyata.” kata penyihir itu.
“Iya kami kelas 6, kakak juga masih sekolah ya sepertinya?” tanya Ootori.
“Un, aku masih kelas 1 SMP di Hyoutei hehehe ternyata cuma beda satu tingkat ya. Dan, ssstt jangan bilang-bilang , aku sebenarnya cowok loh.” katanya sambil berbisik.
“APA? Cowok?” ketiga anak kelas 6 itu kaget.
Hiyoshi tertegun, dia cowok tetapi kenapa bisa selembut itu bahkan dia hanya selisih satu tahun darinya tapi bisa terlihat begitu dewasa.
“Jangan keras-keras!!!”
“Kok bisa?” tanya Kabaji.
“Penyihir” itu nyengir, “Kegiatan klub belum mulai sih makanya aku cari kesibukan dan kupikir cosplay seperti ini menarik.”
“Kakak ikut klub apa?” tanya Hiyoshi malu-malu.
“Aku? Tenis. Di klub tenis sedang ada sedikit perdebatan, ada anak baru yang sekarang jadi kapten. Namun belum banyak yang percaya padanya terutama para senpai. Terus para senpai menyuruh anak baru dan anak kelas 2 untuk tidak mematuhi anak baru itu makanya kegiatan klub belum berjalan lancar. Namun, aku yakin anak baru pasti bisa, dia hebat!” katanya berseri-seri.
“Atobe Keigo.” kata Hiyoshi, Ootori dan Kabaji bersamaan.
“Heh? Kalian tau?”
“Kami melihat pertandingannya beberapa waktu yang lalu.” jawab Hiyoshi “Kabaji malah temannya, na Kabaji?”
“Usu.”
“Ahh, makanya kaya pernah liat sebelumnya. Eh, kalian besok masuk Hyoutei ya!”
“Tentu.”
“Bagus, Atobe pasti akan membawa perubahan bagi tim tenis Hyoutei jadi kalian harus masuk ke Hyoutei!”
“Hiyoshi-kun bahkan bermaksud melampauinya !” kata Ootori terang-terangan sambil menunjuk Hiyoshi.
“Ootori!”
“Penyihir” itu memandang Hiyoshi dari atas sampai ke bawah,
” Semangat yang bagus. Kau pasti juga bisa Hiyoshi-chan.” katanya sambil menepuk kepala Hiyoshi.
Saat itu wajahnya sangat dekat dengan wajah Hiyoshi. Hiyoshi bisa melihat betapa putih dan halus kulit wajah “penyihir” itu juga matanya yang menyiratkan kelembutan. Sekali lagi, Hiyoshi merasa mual.
“Terimakasih.” kata Hiyoshi sambil menunduk.
“Are? Kau sakit ya, mukamu merah.”
“Eh, iya. Hiyoshi lebih baik kita cepat pulang.” kata Ootori khawatir. “Kakak, kami pulang dulu ya!” pamit Ootori sambil menggandeng tangan Hiyoshi.
“Bye…!” balas sang “penyihir” sambil tersenyum manis.
Belum jauh mereka berjalan Hiyoshi menghentikan langkahnya.
“Nama kakak siapa?” tanyanya ke “Penyihir” dengan muka merah padam.
“Taki Haginosuke. Yoroshiku~”
Hiyoshi segera berbalik dan berjalan dengan cepat. Jantungnya berdebar sangat kencang dan perut mualnya sungguh tak tertahankan.
“Hiyoshi-kun, daijoubu?” tanya Kabaji.
“Un, daijobu!”

Ootori dan Hiyoshi berpisah dengan Kabaji  di sebuah perempatan. Sebelum berpisah Kabaji berulangkali mengucapkan terimakasih.
Tanoshikatta desu, arigatou gozaimashita Hiyoshi-Ootori.” kata Kabaji.
Seharusnya Ootori mengambil jalan yang sama dengan Kabaji namun Ootori bersikeras ingin mengantar Hiyoshi sampai ke rumah padahal Hiyoshi sudah bilang dia tidak sakit. Rasa mual di perutnya sudah hilang namun jantungnya masih berdebar kencang.
“Sudah kubilang aku tidak apa-apa, kau jadi mengantarku sampai rumah begini.” kata Hiyoshi sesampainya di depan rumahnya.
“Habis muka Hiyoshi-kun merah, tadi aku kan yang ngajak Hiyoshi main jadi aku harus bertanggungjawab.”
“WAKASHI !” sebuah suara dari arah rumah terdengar.
Terlihat seorang wanita berpakaian ala Jepang keluar dari rumah. Beliau sudah cukup berumur namun rona kecantikannya masih terlihat.
Konnichiwa.” salam Ootori.
Konnichiwa.” balas wanita itu. “Wakashi, bolos les soroban lagi?”
“EhitusalahsayabukansalahHiyoshiitukarenasayamemaksaHiyoshiikutmaintolongmaafkanHiyoshi” jawab Ootori cepat tanpa aba-aba sehingga semua perkataannya tidak jelas.

Di sebuah ruangan dengan tatami yang ditata rapi Hiyoshi dan Ootori duduk berdekatan. Ootori sedari tadi menunduk, dia merasa bersalah telah mengajak Hiyoshi pergi ke festival sehingga harus bolos latihan soroban. Lalu pintu di samping terbuka,
“Ootori-kun, silakan diminum.” Wanita tadi yang merupakan ibu dari Hiyoshi menyuguhkan teh.
“Terimakasih.” Ootori masih menunduk.
“Tidak apa-apa, bibi tidak marah kok denganmu atau dengan Wakashi.”
“Benarkah?”
“Jika Hiyoshi tidak mau latihan soroban biasanya dia akan minta izin dulu pada bibi, tapi tadi Wakashi tidak bilang apa-apa makanya bibi kira dia latihan soroban seperti biasa. Namun, saat Bibi menelepon gurunya beliau bilang Hiyoshi tidak datang jadi bibi agak khawatir.”
“Maaf, telah membuat Bibi khawatir. Saya tadi memaksa Hiyoshi menemani saya pergi ke festival.”
“Ootori-kun, aku tidak merasa terpaksa kok.” Hiyoshi protes.
“Sekali lagi maaf ya bibi-Hiyoshi.”

Saat pulang Hiyoshi mengantar Ootori sampai ke depan.
“Ootori-kun terimakasih untuk hari ini. Seperti yang dibilang Kabaji , tadi sangat menyenangkan. Aku tidak menyesal membolos latihan soroban.” kata Hiyoshi malu-malu. “Kau tak perlu minta maaf.”
Mulut Ootori tertutup, dia memang bermaksud minta maaf (lagi).
“Aku senang melihat Kabaji-kun dan kau menikmati festivalnya.”
“Kau sendiri menikmatinya kan? Aku senang bisa ketemu dengan kakak tadi, aku benar-benar ingin masuk klub tenis Hyoutei! Kita mulai latihan minggu ini yuk, menurut bagaimana Hiyoshi-kun?”
”Dia manis dan baik, saat dia bilang dia cowok aku tidak percaya habis dia terlihat lembut. Tapi sungguh aku kagum dengannya, uhmm.. targetku tak hanya Atobe-san tapi kakak itu juga!!”
“Eh? Maksudku tentang tennis.”
Hiyoshi melongo. Salah tingkah. “Oh.. . Ya aku setuju!”
Ootori tersenyum nakal,”Ahhh Hiyoshi-kun suka sama kakak tadi ya? Cinta pada pandangan pertama?”
“Urusai!” Hiyoshi salah tingkah.
Ootori-pun tertawa terbahak-bahak.

OWARI

0 comments:

Poskan Komentar